Natal Menghadirkan Keceriaan

š—”š—®š˜š—®š—¹ Menghadirkan Keceriaan
Aku, mungkin anda juga yang berasal dari š™ƒš™Ŗš™©š™– (kampung) masih ingat perayaan natal ketika masih Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Minggu. Sebulan sebelum hari-H, guru agama atau sintua membagikan ayat Alkitab untuk dihafal. Satu sampai tiga ayat setiap orang, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Sebelum hari perayaan, diadakan latihan, untuk memastikan setiap orang percaya diri dalam penampilan. Selain itu,  agar fasih dalam melafazkan kata demi kata secara benar dan lengkap.  Tak kalah pentingnya posisi berdiri sesuai dengan sistematika ayat yang diucapkan.

Alur liturgi itu disusun sistematis, berawal dari panompaon (penciptaan alam semesta), haš˜„š˜¢š˜„š˜¢š˜£š˜¶ š˜µš˜¶ š˜„š˜°š˜“š˜¢ (kejatuhan manusia dalam dosa), bš˜¢š˜Øš˜¢-š˜£š˜¢š˜Øš˜¢ (janji kedatangan Penebus) hš˜¢š˜“š˜°š˜“š˜°š˜³š˜¢š˜Æš˜Ø (kelahiran Kristus) diakhiri dengan pš˜°š˜„š˜¢  atau pesan kehidupan.

Saat latihan terakhir, dipastikan saat kapan seseorang  masuk liturgi, urutan ke berapa, maupun kefasihan dalam mengucapkan ayat liturginya.

Namun demikian pada hari-H, walaupun dengan baju baru, sepatu baru tidak sedikit teman-teman yang lupa kapan masuk liturgi. Posisinya berdiri juga tidak sesuai dengan urutan yang telah ditentukan, sehingga ayat yang diucapkan tidak runtut.

Saat berdiri di altar, tidak sedikit yang berubah grogi, berhadapan dengan ratusan orang.  Setelah  mencoba mengucapkan separuh liturginya, dia lupa frasa lanjutannya. Bahkan ada yang sama sekali berdiri kaku, gemetar tanpa suara. Padahal orang tuanya sengaja datang menyaksikan berharap anaknya tampil ekselent. Ketika hal itu terjadi, para hadirin biasanya berbisik satu sama lain, hingga ruangan gaduh.

Hal yang manusiawi, setiap anak memiliki tingkat keberanian dan percaya diri yang berbeda. Jangankan anak kecil, kita sendiri pun yang sudah berumur, sering  grogi ketika berdiri di depan umum, sehingga lupa menyampaikan kata-kata yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Bagi anak, mantap tidaknya penampilan liturgi, tidak terlalu dirisaukan. Namun, usai doa berkat setiap anak berebutan menghampiri pohon natal. Media pohon natal terbuat dari ranting dan daun hau atturmangan (pohon cemara).  Penyangganya, batang pisang. Mengambil lilin yang masih tersisa belum habis meleleh, dianggap sebagai keberhasilan. Pada saat doa berkat, mata sudah tertuju ke pohon cemara, mengamati posisi lilin yang akan diambil. Saat nyanyian penutup Amin...amin...amin, anak-anak berebutan meraihnya. Terkadang sintua ikut membantu. Untuk mendapatkanya, tidak masalah tangan kena lelehan lilin panas. Ya, sebagai pengganti hadiah natal, untuk penerangan jalan pulang, jalan yang dipenuhi lumpur. Memang, bulan Desember adalah musim hujan, hingga sepatu baru berat dipenuhi lumpur.

Satu hal yang mau saya sampaikan, melalui masa-masa perayaan natal masa kecil itu, telah melatih dan mempersiapkan mental kita untuk menjadi pribadi yang handal. Siap mengarungi samudra kehidupan dengan segala tantangannya.

Bersyukurlah anda dan saya pernah merasakan hal yang sama.

š™‰š™–š™©š™–š™” š™ˆš™šš™¢š™—š™–š™¬š™– š™†š™šš™˜š™šš™§š™žš™–š™–š™£

Selamat merayakan Natal bagi Anda semua yang merayakannya. Tetap semangat dan Antusias

Baca juga|

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesaksian Aktor Pemeran The Passion Of The Christ

PERANAN PEMUDA GEREJA DALAM PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM

Kuat Seperti Burung Rajawali