Terbanglah Rajawaliku

 

Kisah Inspiratif Derman P. Nababan dari Cleaning Service, Menjadi Ketua Pengadilan Negeri

Setiap orang pasti memiliki keinginan dan cita-cita. Namun tidak seorang pun dapat menentukan langkah hidupnya. Ungkapan itu bukan sekedar pelipur lara bagi orang yang memandang jalan hidupnya kurang beruntung dibanding dengan orang lain. Memang, setiap orang memiliki jalan hidup berbeda, hal itu adalah ketetapan Tuhan. Oleh karenanya dibutuhkan ketulusan dan keteguhan hati untuk menyusurinya, dengan keyakinan penuh bahwa itu merupakan rancangan yang terbaik dari Tuhan, walau kadang tak bisa dimengerti.

Memulainya, dari sebuah Dusun Lumbantobing tepatnya di lereng bukit “Dolok Imun”. Sebuah perkampungan sepi penghuni, tetapi berhawa sejuk, Desa Lumban Tongatonga, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara.  Aneka ragam kicauan burung setidaknya menghilangkan kepenatan, karena dari hari ke hari hanya bisa memandang hamparan sampilpil (sejenis tumbuhan paku, pakis),  haramonting (karamunting), hutan pinus dan cengkedan sawah tersusun rapi bertingkat.

Di dusun itu, saya lahir dan dibesarkan. Orang tua saya petani kecil dan miskin. Ayahku pekerja keras, terkadang harus mangombo ‘upahan’ ke Tanjung Leidong, menggergaji kayu ke berbagai hutan hingga ke daerah Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu. Sesekali mangula ‘mencangkul’ ke Tarutung.  Ibuku seorang napadot ‘ulet dan pekerja keras’ dari subuh hingga larut malam. Setiap pekan Selasa menjual tape dengan berjalan kaki ke Pasar Siborongborong buat mencukupi biaya hidup 7 orang anak-anaknya.

Kisah dibalik buku #Terbanglah_Rajawaliku

Namun di lain sisi, pada bulan Desember ayahku suka mabuk dan main judi. Jika kalah, ia menggadaikan sawah dan melarikan diri. Kejadian yang sama berulang, sampai akhirnya ia menemukan titik balik petualangan hidupnya dan hidup baru di dalam Tuhan. Meminjam istilah motivator Sabam Sopian Silaban, ayah dan Ibuku adalah sosok “Among dan Inong Di Atas Garis”. Saya ke sekolah naik sepeda sejauh 9 kilometer, melatih saya belajar terbang seperti anak burung rajawali. 

Gagal masuk perguruan tinggi negeri, gagal masuk Calon Tantama TNI AD, dan dua kali gagal test CPNS. Pengalaman itu mengajar saya memandang kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Syukur, diterima menjadi CPNS Golongan I B, tugas pokok sebagai cleaning service, Satpam dan jaga malam gaji hanya Rp52.800,00. Tinggal di Medan mengontrak sebuah rumah bersama lima orang adik-adik, dan menjadi pemimpin bagi mereka. Saat yang sama menjadi “Mahusor” (Mahasiswa Hukum Sore). Persoalan lain, menghadapi sikap skeptis pimpinan di kantor. Ia enggan mendorong bawahannya menghadapai tantangan. Ia bahkan berusaha menarik mundur, ketika saya mulai menyingsingkan baju untuk bertarung di gelanggang pertandingan. Ia pikir pintu peluang itu selalu ada, walau hanya dengan berpangku tangan. Kondisi itu, melatih “otot kaki” iman saya berjalan melewati padang gurun yang keras. Sekaligus meyakinkan saya, bahwa orang-orang yang berjuang dari “pinggiran” untuk bisa hidup lebih baik adalah keteladanan hidup.

Lulus menjadi Calon Hakim dan diangkat menjadi Hakim, adalah hal  sesungguhnya di luar ekspektasi saya. Bagaimana tidak? Saya bukanlah orang berprestasi di kampus,  badan saya kurus karena kurang gizi. Dengan status baru sebagai Calon Hakim selanjutnya menjadi hakim, saya memulai biduk rumah tangga dengan gadis cantik Romaida Simaremare, S.P. Banyak orang mengira hidupku sungguh beruntung dan bahagia.  Di dalam banyak angan akan indahnya mahligai rumah tangga, saya harus “terbang dengan sayap iman” bagai Rajawali di tengah goncangan badai dan melalui celah tebing bebatuan terjal dan curam.

Istriku Romaida, divonis dokter mengidap penyakit ca mammae (kanker payudara). Selama dua tahun lebih, kami banyak menghabiskan waktu di berbagai rumah sakit. Di antaranya Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, RSCM, RS PGI Cikini, RS H. Adam Malik Medan dan RS Dr. Pirngadi Medan. Waktu, dana dan air mata terkuras habis. Pada akhirnya Romaida harus menghadap pencipta-Nya, di saat kedua anak kami Kevin Jagar Eliezer (kelas 4 SD) dan Tifany Saulina Nababan (kelas 6 SD) membutuhkan kasih sayang ibunya. Istriku seorang pendoa sudah berkeliling di berbagai kota di Indonesia, seorang yang bermurah hati. “Tuhan, mengapa ini harus terjadi?” protesku di satu sisi.

Sepertinya tidak ada harapan, berpindah dari satu kesulitan kepada kesulitan lain. Namun saya diteguhkan Nats Yesaya 30:15. “Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu…,” maka dari itu mataku tetap tertuju ke depan, walau dengan “sayap timpang” harus terus bergerak. Aku memperkuat “baling-baling” iman untuk bisa terbang lebih tinggi menghadapi badai hidup. Ya, badai hidup.

“Badai pasti berlalu dan sehabis hujan pasti ada pelangi,” narasi yang selalu menguatkanku. Benar, dalam tugas saya bertemu dengan seorang gadis di “ruang sidang”. Ia Seorang Jaksa, dengan penampilan sederhana. Wanita ini luar biasa, bagaimana ia bisa memahami guncangan jiwaku, dan menerima keberadaan kedua anakku yang sedang patah semangat. Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu bersedia duduk bersamaku melanjutkan merencanakan petualangan hidup menggapai masa depan. Walau awalnya kedua orang tuanya (kini mertuaku) tidak setuju. Namun melihat keteguhan hatinya, mereka memberi dukungan penuh. Dialah Rumata Rosininta Sianya Manalu, S.H.,M.H, juga alumni Magister Hukum Bisnis Universitas Sumatera Utara  (USU) Medan.

Sebagai PNS (kini ASN) dan Hakim saya sudah bertugas 9 kota yang berbeda. Mulai dari Medan, Tebing Tinggi, Padang Sidimpuan, Tarutung, Jepara, Lubuk Pakam, Balige, Jambi dan sekarang di Subang. Selain dengan jabatan  sebagai Hakim, di berbagai kota itu pula saya belajar memimpin organiasasi masyarakat maupun kegiatan Oikumenis dan menjadi “pelayan” pengkhotbah di berbagai gereja. Terlalu banyak kesaksian yang harus aku bagikan kepada banyak orang. Bagaimana Tuhan mengajar saya terbang seperti anak rajawali. Kesulitan, kegagalan, duka dan derita adalah cara-Nya mengajar saya, supaya otot sayap iman kokoh, tidak rapuh, terbang semakin tinggi lagi.

Pengalaman itu, menjadi fondasi bagi saya ketika dipromosikan menjadi Ketua (pimpinan) di Pengadilan Negeri. Itu adalah anugrah, suatu berkat dari Tuhan. Komitmen saya menjadi berkat bagi banyak orang, selama Dia memberi napas. Kiranya Tuhan memberi waktu dan kesempatan lain, sehingga kisah ini akan terus berlanjut.

Kiranya pembaca yang diberkati, mendapat inspirasi dari catatan sederhana   “Terbanglah Rajawaliku, Kisah Inspiratif Derman P. Nababan dari Cleaning Service, Menjadi Hakim/Ketua Pengadilan Negeri”  Tetap Semangat dan Antusias, Tuhan Memberkati.

Bekasi, 25 Maret 2020

Dalam Kasih-Nya

 

Derman P. Nababan, S.H.,M.H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesaksian Aktor Pemeran The Passion Of The Christ

KESOMBONGAN MENDAHULUI KEHANCURAN