Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

TERBANGLAH RAJAWALIKU (In Memorium Ayahanda dan Ibunda Tercinta).

Gambar
𝗧𝗘𝗥𝗕𝗔𝗡𝗚𝗟𝗔𝗛, 𝗥𝗔𝗝𝗔𝗪𝗔𝗟𝗜𝗞𝗨 (In Memoriam Ayahanda dan Ibunda Tercinta) Ada dua orang yang sepanjang hidup saya tidak pernah benar-benar selesai saya kenang: 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗯𝘂. Mereka bukan manusia sempurna. Mereka hanya dua orang sederhana dari sebuah kampung kecil, yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya. Ayah, Pdt. Tumpak Nababan, hanya mengenyam pendidikan sampai kelas VI Sekolah Rakyat. Ia seorang pekerja keras—petani, buruh panen, penggergaji kayu, penarik becak. Namun, perjalanan hidupnya juga pernah jatuh dalam jerat minuman keras dan perjudian. Berkali-kali ia jatuh, pergi, dan membuat Ibu menunggu dalam kecemasan. Saya masih ingat malam-malam ketika Ibu menangis diam-diam. Di depan kami, ia selalu berusaha tegar. Di hadapan Tuhan, barulah air matanya tumpah. Namun kasih Ibu tidak pernah benar-benar menyerah. Dan Tuhan akhirnya mengubah cerita itu. Pada 1992, Ayah datang kepada Tuhan dengan hati yang remuk. Sejak hari itu, hidupnya berubah. Tuak, ...