Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Tingkat Literasi, Viralitas, dan Kebenaran: Mengapa Kemampuan Menulis Adalah Ukuran Kecerdasan

Gambar
Tingkat Literasi, Viralitas, dan Kebenaran: Mengapa Kemampuan Menulis Adalah Ukuran Kecerdasan ​Oleh: Derman P. Nababan*** ​Dalam era disrupsi digital saat ini, masyarakat dihadapkan pada paradoks informasi yang kian tajam. Di satu sisi, akses terhadap pengetahuan terbuka seluas-luasnya hanya dengan satu sentuhan jari. Namun di sisi lain, minat dan kedalaman untuk memahami informasi justru mengalami degradasi.  Fenomena sosial yang terjadi menunjukkan bahwa mayoritas netizen jauh lebih tertarik mengonsumsi video-video emosional berdurasi pendek (short-form content) ketimbang membaca tulisan yang bernas dan berbobot. Pergeseran pola konsumsi ini bukan sekadar persoalan selera hiburan, melainkan cerminan dari dinamika budaya literasi, kualitas pemikiran, dan tingkat kedewasaan intelektual masyarakat. ​ Fenomena Video Emosional vs. Budaya Membaca ​Secara psikologis dan neurosaintifik, media visual berkecepatan tinggi yang mengeksploitasi emosi—seperti kemarahan, gertakan, atau sensas...

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗺𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗶 𝗗𝗮𝘁𝗮: 𝗠𝗲𝗻𝗲𝗹𝘂𝘀𝘂𝗿𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗟𝗶𝘁𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗠𝗮𝗻𝗶𝗽𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹

Gambar
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗺𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗶 𝗗𝗮𝘁𝗮: 𝗠𝗲𝗻𝗲𝗹𝘂𝘀𝘂𝗿𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗟𝗶𝘁𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗠𝗮𝗻𝗶𝗽𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹 Perkembangan ruang digital hari ini membawa masyarakat pada sebuah fenomena paradoks. Di satu sisi, arus informasi mengalir deras tanpa henti, memberikan akses pengetahuan yang tak terbatas.  Namun di sisi lain, melimpahnya data justru berbanding terbalik dengan kedalaman pemahaman masyarakat. Masyarakat digital atau netizen cenderung mengalami krisis literasi membaca yang cukup memprihatinkan. Ruang publik digital kini tidak lagi didominasi oleh dialektika pemikiran berbasis fakta, melainkan riuh oleh letupan respons emosional. Fenomena keberpihakan netizen terhadap narasi sensasional ketimbang pencarian kebenaran faktual telah mengubah media sosial dari arena edukasi menjadi panggung penghakiman massal. Akar permasalahan dari dinamika ini terletak pada rendahnya ketahanan literasi digital yang memicu k...

Sentuhan Kasih Dharmayukti Karini Jayapura: Menyapa Para Sesepuh, Merawat Resonansi Kebaikan

Gambar
Sentuhan Kasih Dharmayukti Karini Jayapura: Menyapa Para Sesepuh, Merawat Resonansi Kebaikan ​ JAYAPURA — Ruang tamu sederhana itu mendadak penuh kehangatan. Senyum merona dan binar bahagia tak mampu disembunyikan dari wajah para purnabakti peradilan saat rombongan pengurus Dharmayukti Karini (DYK) Cabang Jayapura melangkahkan kaki berkunjung ke kediaman mereka pada Jumat (22/9/2023). ​Aksi kepedulian bertajuk anjangsana ini dipimpin langsung oleh Ketua DYK Cabang Jayapura, Ny. Rumata Derman Nababan, dengan didampingi Pelindung DYK Cabang Jayapura, Derman P. Nababan, S.H., M.H. Bersama jajaran pengurus, rombongan bergerak menyusuri sudut-sudut Jayapura untuk merajut silaturahmi dengan para purnabakti Pengadilan Negeri (PN) Jayapura. ​Beberapa sosok senior yang dikunjungi di antaranya Bapak Adrianus Infaindan, S.H. (Pensiunan Hakim PN Jayapura), Ibu Ludiana Somba, S.H. (Pensiunan Sekretaris PN Jayapura), Ibu Oda (Pensiunan Jurusita), serta Bapak Dominggus Numberi (Pensiunan Jurusita...

Etika Bermedia Sosial: Sebelum Menekan “Bagikan”, Pastikan Benar dan Bermanfaat

Gambar
  Etika Bermedia Sosial: Sebelum Menekan “Bagikan”, Pastikan Benar dan Bermanfaat.  Media sosial memberi kita sesuatu yang dahulu tidak dimiliki banyak orang: kemampuan untuk berbicara kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Satu tulisan, foto, video, atau komentar dapat berkeliling dari satu akun ke akun lainnya tanpa mengenal batas ruang. Karena itu, media sosial bukan sekadar tempat untuk berbagi. Ia adalah ruang publik yang membawa konsekuensi sosial. Ketika kita menulis sesuatu, sesungguhnya sedang menampilkan siapa diri kita kepada orang lain.  Manuel Castells, pakar sosiologi dan komunikasi, mendefinisikan komunikasi sebagai “the sharing of meaning through the exchange of information” —berbagi makna melalui pertukaran informasi. Artinya, setiap kali kita berkomunikasi, kita bukan hanya mengirimkan kata-kata. Kita sedang ikut membentuk makna di tengah masyarakat. Apa yang kita tulis, mencerminkan siapa diri kita Karakter seseorang tidak hanya terlihat dar...

Menapaki Panggilan: Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, S.Th.,M.Th.

Gambar
Menapaki Panggilan Catatan Perjalanan Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, M.Th. Ada orang yang mengejar gelar untuk mendapatkan pengakuan. Ada pula yang menempuh pendidikan karena merasa terpanggil untuk memperlengkapi diri. Bagi Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, M.Th., perjalanan akademik dan pelayanan tampaknya berjalan dalam satu tarikan napas: belajar untuk melayani, dan melayani sambil terus belajar. Perjalanan itu tidak dibangun dalam sehari. Ia dimulai dari langkah-langkah sederhana, dari sebuah kerinduan untuk melayani dan membangun kehidupan jemaat di Kota Padangsidimpuan. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada tahun 2005. Bersama Derman P. Nababan, yang kini menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Blitar, Gidyon memulai sebuah Pos Pelayanan GBI di Kota Padangsidimpuan. Saat itu belum ada bayangan bahwa langkah sederhana tersebut kelak menjadi bagian dari perjalanan pelayanan yang panjang. Derman P. Nababan masih mengingat dengan baik masa-masa terseb...

TERBANGLAH RAJAWALIKU (In Memorium Ayahanda dan Ibunda Tercinta).

Gambar
𝗧𝗘𝗥𝗕𝗔𝗡𝗚𝗟𝗔𝗛, 𝗥𝗔𝗝𝗔𝗪𝗔𝗟𝗜𝗞𝗨 (In Memoriam Ayahanda dan Ibunda Tercinta) Ada dua orang yang sepanjang hidup saya tidak pernah benar-benar selesai saya kenang: 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗯𝘂. Mereka bukan manusia sempurna. Mereka hanya dua orang sederhana dari sebuah kampung kecil, yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya. Ayah, Pdt. Tumpak Nababan, hanya mengenyam pendidikan sampai kelas VI Sekolah Rakyat. Ia seorang pekerja keras—petani, buruh panen, penggergaji kayu, penarik becak. Namun, perjalanan hidupnya juga pernah jatuh dalam jerat minuman keras dan perjudian. Berkali-kali ia jatuh, pergi, dan membuat Ibu menunggu dalam kecemasan. Saya masih ingat malam-malam ketika Ibu menangis diam-diam. Di depan kami, ia selalu berusaha tegar. Di hadapan Tuhan, barulah air matanya tumpah. Namun kasih Ibu tidak pernah benar-benar menyerah. Dan Tuhan akhirnya mengubah cerita itu. Pada 1992, Ayah datang kepada Tuhan dengan hati yang remuk. Sejak hari itu, hidupnya berubah. Tuak, ...