Menapaki Panggilan: Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, S.Th.,M.Th.


Menapaki Panggilan

Catatan Perjalanan Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, M.Th.

Ada orang yang mengejar gelar untuk mendapatkan pengakuan. Ada pula yang menempuh pendidikan karena merasa terpanggil untuk memperlengkapi diri. Bagi Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha, M.Th., perjalanan akademik dan pelayanan tampaknya berjalan dalam satu tarikan napas: belajar untuk melayani, dan melayani sambil terus belajar.

Perjalanan itu tidak dibangun dalam sehari. Ia dimulai dari langkah-langkah sederhana, dari sebuah kerinduan untuk melayani dan membangun kehidupan jemaat di Kota Padangsidimpuan.

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada tahun 2005. Bersama Derman P. Nababan, yang kini menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Blitar, Gidyon memulai sebuah Pos Pelayanan GBI di Kota Padangsidimpuan.

Saat itu belum ada bayangan bahwa langkah sederhana tersebut kelak menjadi bagian dari perjalanan pelayanan yang panjang.

Derman P. Nababan masih mengingat dengan baik masa-masa tersebut. Sebagai seorang diaken, Derman menyaksikan Gidyon awalnya sebagai Worship Leader, bekerja, memimpin, dan membangun pelayanan dari bawah.

“Saya bersama Gidyon memulai Pos Pelayanan GBI di Kota Padangsidimpuan pada tahun 2005. Saya melihat kepemimpinan dan kerja keras dari Gidyon.”
Derman P. Nababan, Ketua Pengadilan Negeri Blitar

Kesaksian itu memperlihatkan satu karakter yang sejak awal melekat pada diri Gidyon: kerja keras.

Pelayanan baginya bukan sekadar aktivitas mingguan. Ada kesediaan untuk hadir, membangun, membina, dan mengembangkan apa yang telah dipercayakan kepadanya.

Menariknya, pelayanan tersebut berjalan beriringan dengan perjalanan akademiknya.

Di tengah kesibukan melayani, Gidyon tetap melanjutkan pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan Magister Teologi dan kemudian melangkah ke jenjang doktoral.

Derman melihat ketekunan tersebut sebagai sesuatu yang tidak biasa.

“Terbukti, sambil pelayanan beliau bisa menyelesaikan S2 dan kini S3 Teologi Hari ini, Rabu, 16 September 2026, dengan mengenakan Toga kehormatan, Gidyon diwisuda, bersama ratusan Sarjana dan Pasca Sarjana STTBI Jakarta.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan sebuah prinsip yang sering kali mudah diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan: pelayanan dan pendidikan dapat berjalan bersama ketika keduanya dijalani dengan disiplin dan ketekunan.

Dari Pos Pelayanan Menjadi Gerakan Pelayanan

Tahun 2005 mungkin hanya sebuah angka bagi banyak orang. Tetapi bagi Gidyon, tahun itu merupakan bagian dari sejarah panggilan.

Dari sebuah pos pelayanan, perjalanan kemudian berkembang. Beberapa pos pelayanan GBI dibuka di bawah pembinaannya. Pelayanan tidak lagi berhenti pada satu tempat, melainkan berkembang melalui pembinaan dan pengutusan.

Derman kembali menyaksikan perkembangan tersebut.

“Saya juga melihat keseriusannya dalam ladang pelayanan, terbukti dengan pembukaan beberapa Cabang GBI di bawah pembinaannya.”

Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Gidyon tidak hanya terlihat dari kemampuannya berbicara atau memimpin ibadah, tetapi juga dari kesediaannya membangun sesuatu yang dapat bertumbuh dan diteruskan.

“Pelayanan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang datang, tetapi tentang seberapa banyak kehidupan yang kemudian mampu dibangun.”

Kalimat itu seolah merangkum perjalanan pelayanan Gidyon selama bertahun-tahun.

Selain pelayanan gerejawi, ia juga aktif dalam kehidupan organisasi kependetaan. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPC Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Kota Padangsidimpuan.

Amanah tersebut memperluas ruang pengabdiannya. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan internal jemaat, tetapi juga dengan kebutuhan membangun kebersamaan dan jejaring di antara para pelayan Tuhan.

Ketika Perjalanan Akademik Menjadi Ujian Ketekunan

Perjalanan menuju gelar doktor pun bukan jalan yang sepenuhnya mulus.

Gidyon memulai Program Doktoral Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia (STTBI), Jakarta, pada 2021. Selama lima tahun, ia menjalani proses akademik hingga akhirnya mencapai tahap Sidang Promosi Doktor pada 2026.

Namun, di tengah perjalanan itu, ada masa ketika ia harus berhenti sejenak.

Pada 2023, Gidyon mengambil jeda akademik selama dua semester karena persoalan kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan dan perawatan. Perjalanan pendidikan yang semula berjalan, harus dihentikan sementara.

Tetapi berhenti bukan berarti menyerah.

Dengan dukungan keluarga dan doa, ia kembali melanjutkan studi.

Di titik inilah perjalanan akademiknya menjadi lebih dari sekadar kisah tentang gelar.

“Kadang-kadang, ketekunan bukan berarti terus berjalan tanpa pernah berhenti. Ketekunan adalah kemampuan untuk kembali berdiri setelah harus berhenti.”

Pada akhirnya, perjuangan itu membawanya kembali ke ruang akademik hingga ia berhasil mempertahankan disertasinya dan resmi menyandang gelar Doktor Teologi.

Meneliti Pemulihan, Membaca Persoalan Manusia

Disertasi Gidyon mengangkat tema yang dekat dengan persoalan kemanusiaan: pemulihan dan pencegahan kekambuhan penyalahgunaan narkoba.

Judul penelitiannya adalah:

“Rehabilitasi dan Pencegahan Relapse Narkoba Berkesinambungan Berbasis Therapeutic Community, Spiritualitas Kristen dan Resiliensi Keluarga: Studi Kasus di Yayasan Mercusuar Doa Kota Pematang Siantar.”

Pilihan tema itu memperlihatkan perhatian Gidyon terhadap persoalan yang tidak berhenti pada ruang gereja atau ruang kelas.

Menurut pemikirannya yang dikutip dalam tulisan sumber, rehabilitasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai proses menghentikan penggunaan zat atau menyelesaikan perawatan formal. Pemulihan harus berlangsung secara berkesinambungan dengan memperhatikan perilaku, spiritualitas, lingkungan sosial, dan kekuatan keluarga.

“Rehabilitasi harus dipahami sebagai proses berkesinambungan. Seorang individu tidak hanya membutuhkan transformasi perilaku, tetapi juga penguatan spiritual yang mendalam serta resiliensi keluarga yang kokoh.”

Dari sana tampak bahwa pendidikan yang ditempuhnya berusaha dihubungkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Ia tidak hanya mempelajari teologi sebagai disiplin ilmu, tetapi mencoba membawa perspektif teologi berjumpa dengan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Gelar Bukan Garis Akhir

Pada akhirnya, gelar doktor yang diraih Gidyon pada 2026 bukanlah penutup perjalanan.

Justru sebaliknya, gelar tersebut menjadi bagian baru dari tanggung jawab yang lebih besar.

Perjalanan sejak 2005 menunjukkan sebuah pola yang konsisten: memulai dari hal sederhana, mengembangkan pelayanan, terus belajar, menghadapi masa sulit, kemudian kembali melangkah.

Dari sebuah Pos Pelayanan GBI di Kota Padangsidimpuan, perjalanan itu berkembang menjadi pelayanan yang lebih luas. Dari pendidikan teologi, ia melanjutkan hingga jenjang doktoral. Dari pelayanan gereja, ia mengambil bagian dalam organisasi kependetaan. Dan dari ruang akademik, ia memilih mengangkat persoalan pemulihan manusia dari jerat narkoba.

Semua itu bertemu pada satu kata: pelayanan.

Derman P. Nababan, yang mengenalnya sejak awal perjalanan tersebut, memberikan kesaksian yang sederhana namun bermakna. Ia tidak hanya melihat seorang rekan pelayanan, tetapi juga menyaksikan proses panjang seorang pemimpin yang bekerja dan terus bertumbuh.

Barangkali, di situlah makna terbesar perjalanan Gidyon.

Bukan semata-mata pada gelar Dr., bukan pula pada panjangnya daftar jabatan, melainkan pada kesediaannya untuk terus belajar dan bekerja di tengah panggilan yang dipercayakan kepadanya.

“Ilmu yang tidak kembali kepada kehidupan hanya akan menjadi pengetahuan. Tetapi ilmu yang dihidupi dalam pelayanan dapat menjadi berkat.”

Kini, ketika menoleh ke belakang, perjalanan itu tampak seperti rangkaian titik-titik kecil yang ternyata saling terhubung: Padangsidimpuan, pos pelayanan, jemaat, pendidikan, keluarga, pergumulan, penelitian, hingga ruang sidang promosi doktor.

Tidak semuanya mudah. Tidak semuanya berjalan sesuai rencana.

Tetapi justru di situlah sebuah perjalanan menjadi kisah.

Dan kisah Pdt. Dr. Waspada Gidyon Sarumaha adalah kisah tentang seorang pelayan yang terus berjalan—dari pelayanan sederhana menuju tanggung jawab yang semakin luas, dari ruang gereja menuju ruang akademik, dan dari pengetahuan menuju upaya menghadirkan manfaat bagi sesama.

Sebab pada akhirnya, sebuah gelar bukanlah akhir dari panggilan.

Ia adalah awal dari tanggung jawab yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Nyata Missionaris David Flood dan Svea di Zaire

Kesaksian Aktor Pemeran The Passion Of The Christ

KESOMBONGAN MENDAHULUI KEHANCURAN