TERBANGLAH RAJAWALIKU (In Memorium Ayahanda dan Ibunda Tercinta).
𝗧𝗘𝗥𝗕𝗔𝗡𝗚𝗟𝗔𝗛, 𝗥𝗔𝗝𝗔𝗪𝗔𝗟𝗜𝗞𝗨
(In Memoriam Ayahanda dan Ibunda Tercinta)
Ada dua orang yang sepanjang hidup saya tidak pernah benar-benar selesai saya kenang: 𝗔𝘆𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗯𝘂.
Mereka bukan manusia sempurna. Mereka hanya dua orang sederhana dari sebuah kampung kecil, yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya.
Ayah, Pdt. Tumpak Nababan, hanya mengenyam pendidikan sampai kelas VI Sekolah Rakyat. Ia seorang pekerja keras—petani, buruh panen, penggergaji kayu, penarik becak. Namun, perjalanan hidupnya juga pernah jatuh dalam jerat minuman keras dan perjudian. Berkali-kali ia jatuh, pergi, dan membuat Ibu menunggu dalam kecemasan.
Saya masih ingat malam-malam ketika Ibu menangis diam-diam. Di depan kami, ia selalu berusaha tegar. Di hadapan Tuhan, barulah air matanya tumpah.
Namun kasih Ibu tidak pernah benar-benar menyerah.
Dan Tuhan akhirnya mengubah cerita itu.
Pada 1992, Ayah datang kepada Tuhan dengan hati yang remuk. Sejak hari itu, hidupnya berubah. Tuak, judi bahkan rokok ditinggalkan. Lelaki yang dahulu bergumul dengan kelemahannya itu kemudian menjadi gembala jemaat, melayani Tuhan, dan menjadi tempat banyak orang meminta nasihat.
Masa lalu Ayah tidak terhapus. Tetapi Tuhan menulis ulang masa depannya.
Sementara itu, Ibu—Boru Sidabutar—adalah perempuan yang sejak dini hari sudah berada di ladang. Ia membuat tapai, menjual hasil panen, berjalan berkilo-kilometer ke pasar, dan melakukan apa saja agar anak-anaknya tetap makan dan sekolah.
Ia melahirkan sepuluh anak. Tiga di antaranya dipanggil Tuhan ketika masih kecil.
Ibu menangis. Ibu terluka. Tetapi Ibu selalu bangkit.
Orang kampung menyebutnya 𝘐𝘯𝘢 𝘕𝘢𝘱𝘢𝘥𝘰𝘵—ibu yang rajin bekerja.
Bagi saya, Ibu bukan sekadar pekerja keras.
Ia adalah perempuan yang tidak pernah berhenti berharap.
Ayah mengajari saya arti kerja keras.
Ibu mengajari saya arti keteguhan.
Ayah pernah menjual ternaknya agar saya bisa berangkat mengejar cita-cita. Ibu memastikan anak-anaknya tetap sekolah meski hidup kami serba kekurangan.
Kini saya mengerti: di balik langkah seorang anak, sering kali ada doa orang tua yang tidak pernah terdengar.
Ayah pergi pada 31 Agustus 2021, dalam usia 74 tahun.
Saya masih mengingat kalimat terakhirnya:
"Mulak ma, Amang. Sehat do ahu."
Pulanglah, Nak. Aku sehat, ketika kami datang menjenguknya dari Pematangsiantar.
Ternyata itu bukan sekadar pesan untuk pulang.
Itu menjadi kalimat terakhir yang saya bawa sepanjang hidup.
Belum genap lima tahun setelah kepergian Ayah, Ibu menyusul.
Pada 28 Juli 2026, Ibu menyelesaikan pertandingan hidupnya dalam usia 82 tahun. Pada 1 Agustus 2026, kami mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir.
Kini keduanya telah pergi.
Rumah kami kehilangan dua suara.
Kami kehilangan tempat bertanya.
Anak-anak kehilangan orang tua.
Cucu-cucu kehilangan Ompung.
Tetapi saya percaya, mereka tidak benar-benar pergi.
Mereka hidup dalam doa kami.
Dalam kenangan kami.
Dalam nilai yang mereka tanamkan.
Dalam keberanian kami untuk terus berjalan.
Ayah tidak meninggalkan harta duniawi.
Ibu tidak meninggalkan kemewahan.
Tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal: iman, kerja keras, keteguhan, pengampunan, kasih, dan teladan.
Ayah telah selesai berlari.
Ibu telah selesai berjuang.
Keduanya telah pulang ke rumah Bapa.
Dan kami yang masih tinggal akan melanjutkan perjalanan—dengan air mata, dengan rindu, dan dengan kenangan.
Ayahku...
Ibuku...
Jika suatu hari nanti langkahku terasa berat, nasihat dan keteladananmu menjadi penyemangat.
Bahwa aku pernah dibesarkan oleh dua orang sederhana yang tidak pernah menyerah kepada kehidupan.
Terima kasih Tuhan memberikanku seorang ayah dan ibu yang telah menjadi akar dari setiap langkahku.
Terbanglah menuju rumah Bapa di surga.
Dan dari bumi ini, anakmu akan terus melangkah.
Terus berjuang.
Terus menjadi berkat.
Terus terbang.
Terbanglah, Rajawaliku.
Karena sayap keteguhanku pertama kali tumbuh dari pelukan seorang ibu—dan doa seorang ayah.
~ Derman P. Nababan ~

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih, anda telah mengunjungi web ini, kiranya menjadi berkat. Silahkan di share untuk kebaikan bersama.