Tingkat Literasi, Viralitas, dan Kebenaran: Mengapa Kemampuan Menulis Adalah Ukuran Kecerdasan
Tingkat Literasi, Viralitas, dan Kebenaran: Mengapa Kemampuan Menulis Adalah Ukuran Kecerdasan
Oleh: Derman P. Nababan***
Dalam era disrupsi digital saat ini, masyarakat dihadapkan pada paradoks informasi yang kian tajam. Di satu sisi, akses terhadap pengetahuan terbuka seluas-luasnya hanya dengan satu sentuhan jari. Namun di sisi lain, minat dan kedalaman untuk memahami informasi justru mengalami degradasi.
Fenomena sosial yang terjadi menunjukkan bahwa mayoritas netizen jauh lebih tertarik mengonsumsi video-video emosional berdurasi pendek (short-form content) ketimbang membaca tulisan yang bernas dan berbobot. Pergeseran pola konsumsi ini bukan sekadar persoalan selera hiburan, melainkan cerminan dari dinamika budaya literasi, kualitas pemikiran, dan tingkat kedewasaan intelektual masyarakat.
Fenomena Video Emosional vs. Budaya Membaca
Secara psikologis dan neurosaintifik, media visual berkecepatan tinggi yang mengeksploitasi emosi—seperti kemarahan, gertakan, atau sensasi berlebihan—memberikan rangsangan dopamin instan (instant gratification) tanpa menuntut kerja kognitif yang berat.
Karakteristik media ini memicu respons afektif cepat tanpa melalui jalur evaluasi kritis di otak. Sebaliknya, membaca tulisan yang terstruktur membutuhkan keterlibatan kognitif aktif (active cognitive engagement), fokus berkelanjutan, serta daya analisis mendalam.
Ketika kebiasaan membaca meluntur, daya saring (filtering capacity) masyarakat terhadap arus informasi ikut tergerus. Akibatnya, netizen lebih mudah terombang-ambing oleh narasi dramatis yang dangkal ketimbang mencari kebenaran yang berbasis data, data empiris, dan logika yang runtut.
Viralisme dan Degradasi Kebenaran Substansi
Kondisi ini diperparah oleh berkembangnya budaya viralisme. Dalam ekosistem media sosial masa kini, ukuran "kebenaran" sering kali secara keliru diidentikkan dengan sejauh mana suatu konten disukai, dikomentari, dan dibagikan secara masif. Sesuatu yang viral secara keliru dianggap sebagai realitas yang sahih, padahal viralisme sering kali berdiri di atas manipulasi emosi, potongan informasi yang terdistorsi, atau bias konfirmasi (confirmation bias).
Pakar komunikasi ternama, Marshall McLuhan (1964), mencetuskan tesis legendaris: "The medium is the message." McLuhan menegaskan bahwa medium yang digunakan untuk menyajikan informasi tidak hanya berfungsi sebagai saluran, tetapi juga membentuk struktur kognitif dan pola pikir masyarakat. Ketika media yang mendominasi adalah algoritma platform yang mengutamakan sensasi ketimbang substansi, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) masyarakat perlahan lumpuh.
Sejalan dengan pandangan tersebut, teoretikus media Neil Postman (1985) dalam karyanya Amusing Ourselves to Death memperingatkan bahwa ketika komunikasi publik didominasi oleh bentuk-bentuk hiburan visual yang dangkal, wacana publik akan kehilangan kedalaman akademisnya. Fenomena ini menciptakan iklim post-truth, di mana fakta objektif kalah berpengaruh dibanding dorongan emosional dan keyakinan personal.
Potret Literasi Internasional: Realitas Data
Rendahnya tradisi membaca dan pemahaman teks ini tecermin jelas dalam studi empiris skala internasional:
World’s Most Literate Nations (WMLN): Penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada tahun 2016 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti terkait perilaku dan daya dukung literasi. Peringkat ini menunjukkan ketimpangan yang jauh dalam hal kebiasaan membaca dan aksesitas terhadap infrastruktur literasi.
Programme for International Student Assessment (PISA): Asesmen yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) secara konsisten menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia berada di papan bawah global. Pada laporan PISA 2022 (OECD, 2023), skor literasi membaca Indonesia tercatat sebesar 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476. Data ini menegaskan adanya tantangan besar dalam kemampuan memahami, menganalisis, dan merefleksikan teks tertulis.
Kecerdasan, Kemampuan Menulis, dan Artikulasi Gagasan
Membaca dan menulis adalah dua sisi dari satu mata uang literasi yang sama. Jika membaca adalah proses mencerna gagasan, maka menulis adalah puncak dari proses pengolahan berpikir (higher-order thinking skills). Kemampuan menuangkan ide dan gagasan ke dalam karya tulis bernas merupakan indikator mendasar dari tingkat kecerdasan dan kedalaman analisis seseorang.
Psikolog perkembangan Lev Vygotsky (1986) menyatakan bahwa bahasa tertulis bukan sekadar rekonstruksi dari bahasa lisan, melainkan bentuk pemikiran yang paling kompleks dan membutuhkan abstraksi tingkat tinggi. Menulis secara sistematis menuntut disiplin kognitif yang meliputi:
Penataan Alur Logika (Logical Reasoning): Menyusun gagasan agar memiliki koherensi antara premis dan kesimpulan.
Depersonalisasi dan Objektivitas: Menyaring fakta objektif dari sekadar opini subjektif atau bias emosional.
Sintesis Informasi: Memadukan berbagai perspektif menjadi sebuah argumen yang utuh dan berbobot.
Orang yang mampu menulis dengan jernih umumnya memiliki struktur berpikir yang runtut dan terorganisir. Sebaliknya, pemikiran yang acak-acakan dan emotif akan menghasilkan tulisan yang kabur, kontradiktif, serta dangkal. Kualitas tulisan yang dihasilkan oleh individu maupun suatu bangsa merefleksikan maturitas intelektual dan budaya berpikirnya.
Penutup
Di lingkungan peradilan, kejernihan berpikir dan ketajaman argumentasi tertulis merupakan fondasi utama penegakan hukum dan keadilan. Pertimbangan hukum (ratio decidendi), putusan hakim, hingga pembentukan peraturan perundang-undangan seluruhnya berakar pada tradisi literasi yang presisi, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hukum tidak dapat ditegakkan di atas landasan emosi yang terfragmentasi atau opini viral yang tidak teruji kebenarannya.
Kita tidak boleh membiarkan arah perkembangan peradaban ditentukan oleh riuh rendahnya konten viral yang emotif dan dangkal. Budaya literasi harus direvitalisasi—bukan sekadar sebagai kebiasaan membaca pasif, melainkan sebagai gerakan mengasah ketajaman berpikir logis dan keberanian menuangkan gagasan luhur melalui karya tulis yang berkualitas. Hanya dengan cara itulah masyarakat yang cerdas, kritis, bermartabat, dan berkeadilan dapat diwujudkan di tengah gelombang disrupsi digital.
Referensi / Daftar Pustaka
Central Connecticut State University (CCSU). (2016). World’s Most Literate Nations Ranked. New Britain: CCSU Press.
McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill.
OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.
Postman, N. (1985). Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business. New York: Viking Penguin.
Vygotsky, L. S. (1986). Thought and Language (A. Kozulin, Ed. & Trans.). Cambridge, MA: MIT Press.
***Ketua Pengadilan Negeri Blitar Kelas IA
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Doktor Hukum dan Pembangunan Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih, anda telah mengunjungi web ini, kiranya menjadi berkat. Silahkan di share untuk kebaikan bersama.