𝗦𝗘𝗨𝗡𝗧𝗔𝗜 𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛: 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗪𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗔𝗥𝗜𝗘𝗥 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗔 𝗦𝗨𝗟𝗜𝗧

 𝗦𝗘𝗨𝗡𝗧𝗔𝗜 𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛: 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗪𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗔𝗥𝗜𝗘𝗥 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗔 𝗦𝗨𝗟𝗜𝗧

"𝗞𝗘𝗞 𝗠𝗔𝗡𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗞𝗨𝗗𝗔 𝗞𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜, 𝗦𝗨𝗗𝗔𝗛 𝗠𝗔𝗟𝗔𝗦 𝗝𝗔𝗟𝗔𝗡?

Menjadi CPNS Golongan I B dengan gaji Rp52.800 per bulan bukanlah perkara mudah. Setiap rupiah harus dihitung dengan cermat. Untuk menjalani aktivitas sehari-hari, saya harus bolak-balik naik Sudaco dari kos di Jalan Pancing, Medan, menuju kantor di Jalan Listrik, kemudian ke kampus, dan kembali lagi ke kantor untuk menjalani piket malam.

Hampir semua gaji habis untuk ongkos transportasi.

Melihat keadaan itu, ayah dan ibu akhirnya membantu membelikan sebuah sepeda motor bekas. Bukan motor bagus, apalagi mewah. Yang penting mesinnya masih bisa hidup dan rodanya masih bisa berputar.

Motor Astrea 70-an, yang akrab saya panggil 𝘈𝘴𝘵𝘶𝘵𝘪 itulah yang kemudian menjadi teman seperjuangan dalam merangkai mimpi.

Motor tua itu memang setia, tetapi sering membuat kami geleng-geleng kepala. Mesinnya kadang hidup, kadang mogok. Pengapiannya sering bermasalah. Kalau sedang rewel, lajunya meloncat-loncat layaknya kuda liar yang baru dilepas dari kandang.

Berkali-kali saya membawanya ke bengkel pinggir jalan. Setiap selesai diperbaiki, montir selalu berkata penuh keyakinan,

"Sudah beres, Bang!"

Namun, baru beberapa hari dipakai, penyakit lamanya kambuh lagi.

Suatu sore sepulang kerja, saya pulang bersama sahabat satu kantor, Benhasmen Simatupang, setelah pensiun dari PTUN Medan, kini menjadi Advokat. 

Kami melintasi Jalan Bambu menuju Kampung Durian.

Seperti biasa, motor tua itu kembali berulah.

Saya memutar gas.

𝗡𝗴𝗲𝗲𝗲𝗲𝗻𝗴...!

Suara mesin meraung memekakkan telinga. Saya tambah gas, tetapi anehnya motor tidak juga melaju.

Mesin meraung, tetapi kendaraan enggan bergerak.

Benhasmen mulai tertawa.

"Lah, kok nggak jalan-jalan?"

Saya ikut bingung. Kami akhirnya berhenti dan turun untuk memeriksa motor.

Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui penyebabnya: rantai motor sudah terlepas.

Kami saling berpandangan.

Lalu, tanpa banyak bicara, kami berjalan mundur menyusuri jalan yang baru saja dilewati.

Sekitar seratus meter di belakang, rantai itu ditemukan di tengah jalan.

Benhasmen memungutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kek mananya kuda kita ini, sudah malas jalan, Lae?"

Kami pun tertawa bersama.

Di tengah perut yang lapar, badan yang letih, dan kantong yang tipis, kejadian sederhana itu justru menjadi hiburan tersendiri.

Begitulah kehidupan kami saat itu. Motor boleh tua, rantai boleh putus, tetapi persahabatan dan semangat jangan sampai ikut patah.

𝗠𝗘𝗡𝗔𝗕𝗥𝗔𝗞 𝗣𝗥𝗜𝗔 𝗣𝗔𝗥𝗨𝗛 𝗕𝗔𝗬𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔 𝗞𝗥𝗜𝗧𝗜𝗦

Ada satu peristiwa lain yang hingga kini masih saya ingat. Peristiwa yang bukan hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi juga menguji rasa tanggung jawab saya.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, saya berangkat menuju kantor untuk piket malam. Jalan Perjuangan, Medan, masih cukup ramai. Dari arah Aksara Plaza, saya melaju menuju Rumah Sakit Dr. Pirngadi.

Di depan saya, seorang pria paruh baya mengayuh sepeda mini. Seorang anak kecil berdiri di ass belakang.

Jarak kami semakin dekat. Saya memperlambat laju kendaraan.

Namun, tiba-tiba, tanpa memberikan isyarat, pria tersebut membelok tajam ke kanan menuju Jalan Sentosa.

Semuanya terjadi begitu cepat.

𝗕𝗿𝗮𝗸!

Benturan tak terhindarkan. Pria itu terpental bersama sepedanya. Anak kecil yang diboncengnya ikut terlempar. Dengan wajah ketakutan, anak itu segera bangkit dan berlari menjauh.

Saya terpaku.

Jantung berdegup kencang. Tangan gemetar. Motor saya parkir di sisi jalan. Dalam hitungan detik, orang-orang berkerumun.

Beberapa pemuda berbaju loreng merah, anggota salah satu organisasi kepemudaan, menghampiri dan mengelilingi saya.

"Siapa kau?"

"Dari mana?

"Kerja apa?"

Pertanyaan datang bertubi-tubi.

Dengan suara terbata-bata, saya menunjukkan identitas dan menjelaskan keadaan.

"Saya petugas jaga malam di Pengadilan. Saya tidak akan lari. Saya siap bertanggung jawab."

Saya sadar, solusinya bukan soal siapa yang salah. Yang terpenting adalah memastikan korban segera mendapatkan pertolongan.

Kami pun membawa pria tersebut ke Rumah Sakit Mama Harfas di Jalan Mandala By Pass, Medan.

Lebih dari seminggu beliau menjalani perawatan. Dokter menjelaskan bahwa selain akibat benturan, korban ternyata juga memiliki penyakit bawaan, turut mempengaruhi kondisi korban.

Bagi saya yang baru mulai bekerja dengan penghasilan sangat terbatas, biaya pengobatan tersebut terasa begitu berat.

Tidak ada tabungan. Tidak ada dana cadangan. Tidak ada tempat untuk meminjam uang. 

Akhirnya, saya mengambil keputusan yang tidak mudah.

Motor Astuti yang selama ini menjadi satu-satunya kendaraan untuk bekerja dan kuliah terpaksa dijual. Uangnya digunakan untuk membantu menanggung biaya perawatan korban.

Saya kehilangan kendaraan yang sangat berarti bagi kehidupan sehari-hari. Namun, saya belajar bahwa tanggung jawab harus dijalankan, bahkan ketika keadaan sedang tidak berpihak kepada kita.

Peristiwa itu meninggalkan pelajaran yang tidak pernah saya lupakan. Satu detik di jalan raya dapat mengubah kehidupan seseorang. Sejak saat itu, saya semakin memahami bahwa mengendarai kendaraan bukan sekadar soal keterampilan, tetapi juga tentang kesabaran, kewaspadaan, dan kemampuan mengendalikan diri.

𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗞𝗘𝗧𝗘𝗥𝗕𝗔𝗧𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗝𝗨 𝗠𝗔𝗦𝗔 𝗗𝗘𝗣𝗔𝗡

Setelah motor itu terjual, saya kembali mengandalkan angkutan umum untuk ke kantor dan ke kampus. Kehidupan harus terus berjalan. Pagi bekerja, sore hingga malam kuliah, dan pada waktu tertentu kembali menjalani piket kantor.

Tidak mudah. Ada kalanya badan terasa begitu lelah. Ada saatnya uang di kantong tinggal sedikit, sementara kebutuhan terus datang silih berganti.

Namun, saya tidak ingin berhenti hanya karena keadaan belum berpihak.

Saya terus menjalani pekerjaan sebagai petugas kebersihan, sambil menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa, Medan. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada fasilitas istimewa. Yang saya punya hanyalah kemauan untuk belajar, tekad untuk memperbaiki kehidupan, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang sungguh-sungguh akan membawa arti.

Hari demi hari berlalu. Semester demi semester terlewati. Hingga akhirnya, pada Juli 1998, saya berdiri di antara para wisudawan Universitas Dharmawangsa, Medan.

Di tangan saya tergenggam ijazah Sarjana Hukum.

Indeks Prestasi Kumulatif saya 2,83. 

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin biasa saja. Tidak istimewa. Bahkan mungkin jauh dari membanggakan.

Tetapi bagi saya, angka 2,83 adalah monumen perjuangan.

Di balik angka itu tersimpan cerita tentang pekerjaan sebagai petugas kebersihan, tugas piket malam, kuliah sore, tubuh yang kelelahan, keterbatasan biaya, dan uang kuliah yang harus diperjuangkan, bahkan dengan meminjam.

Ada begitu banyak malam ketika tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat, tetapi saya harus tetap membuka buku dan menyelesaikan tugas.

Ada hari-hari ketika keinginan untuk menyerah terasa begitu dekat. Namun, saya selalu berusaha mengingat satu hal: saya sudah memulai perjalanan ini, dan saya harus berusaha menyelesaikannya.

Ketika mengenakan toga wisuda, saya tidak sedang merayakan tingginya nilai akademik. Saya sedang mensyukuri sebuah perjalanan panjang yang akhirnya sampai pada satu titik pencapaian.

Saya teringat bahwa setiap langkah kehidupan tidak pernah lepas dari penyertaan Tuhan.

Kini, ketika mengenang masa-masa itu, saya semakin memahami bahwa perjuangan bukan semata-mata tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan. Perjuangan juga tentang seberapa kuat kita bertahan ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan.

Saya pernah bekerja dengan gaji yang sangat kecil. Pernah kehilangan satu-satunya kendaraan karena harus bertanggung jawab atas sebuah kecelakaan. Pernah tertawa bersama sahabat karena rantai motor terlepas di tengah perjalanan. Dan pernah pula berjuang menyelesaikan pendidikan dengan segala keterbatasan.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diri saya hari ini.

𝗣𝗘𝗦𝗔𝗡 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗚𝗘𝗡𝗘𝗥𝗔𝗦𝗜 𝗠𝗨𝗗𝗔

Kepada generasi muda, khususnya mereka yang sedang merintis karier dan memperjuangkan masa depan, saya ingin menyampaikan pesan sederhana.

Jangan malu memulai dari bawah. Jangan meremehkan pekerjaan sederhana. Jangan merasa rendah diri hanya karena hari ini belum memiliki job, penghasilan, atau fasilitas seperti orang lain.

Gunakan setiap kesempatan untuk belajar. Kerjakan setiap tugas dengan sungguh-sungguh. Bangun kemampuan sedikit demi sedikit. Jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan keberhasilan orang lain.

Setiap orang punya waktu, kesempatan, dan jalan perjuangannya masing-masing.

Jika hari ini Anda hanya mampu melangkah satu langkah, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Jika kesempatan belum datang, persiapkan diri agar ketika pintu itu terbuka, Anda sudah siap memasukinya.

Jangan biarkan keterbatasan hari ini merampas keberanian Anda untuk bermimpi tentang hari esok.

Hidup mengajarkan kita bahwa masa depan tidak selalu dapat ditebak dari keadaan kita hari ini.

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵. 𝗧𝗮𝗸𝘂𝘁𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗶𝗸𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘂𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘁𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵.

Sebab, perjalanan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tekun, penuh kesabaran, dan disertai doa.

Kepada anak-anak muda Indonesia, jangan menyerah hanya karena kehidupan belum memberikan apa yang Anda harapkan.

Boleh jadi, apa yang hari ini terasa sebagai perjuangan yang melelahkan, kelak justru menjadi kisah paling berharga untuk diceritakan. Jangan buru-buru menilai hidup Anda gagal hanya karena hasil belum terlihat. Teruslah belajar, bekerja, berdoa, dan mencoba kembali.

Tetap semangat. Tetap antusias. Jangan berhenti bertumbuh.

— Derman P. Nababan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Nyata Missionaris David Flood dan Svea di Zaire

Kesaksian Aktor Pemeran The Passion Of The Christ

KESOMBONGAN MENDAHULUI KEHANCURAN