Postingan

Teknik Menyelesaikan Konflik

Gambar
Batanghari, 12/09/2019 Ketua PN Muara Bulian Derman P. Nababan mengatakan konflik bersifat alami, bisa terjadi di antara individu, komunitas, negara dan budaya. Dalam berbagai latar belakang, budaya, kelas, bangsa, umur dan gender. Pertanyaannya, bukan soal apakah konflik itu baik atau buruk, tetapi bagaimana cara menghadapinya. Hal itu disampaikan dalam Rapat Fasilitasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Batanghari, bertempat di Ruang Pola Kecil Kantor Bupati Kab. Batanghari, Kamis, 12/09. Lebih jauh Derman, menyetir pendapat Prof. Dr. H. Takdir Rahmadi, SH.,LL.M. Dikatakan, secara teori bahwa konflik bisa terjadi karena adanya ketidakpercayaan dan rivalitas kelompok dalam masyarakat. Posisi para pihak tidak selaras dan adanya perbedaan kepentingan di antara para pihak.  Suatu kelompok merasa identitasnya teracam oleh pihak lain.  Adanya ketidakcocokan komunikasi karena datang dari budaya yang berbeda. Masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang mewujud dalam b

MARTINA

Gambar
MARTINA Husor  berjalan tergopoh-gopoh, sambil menenteng beberapa buku di tangannya. Memang, sore itu Husor ada janji dengan sesama temannya mahasiswa dari Kecamatan asal mereka. Latihan koor, buat persiapan Perayaan Natal. Husor, terpilih sebagai Ketua Panitia. Tidak mungkin ia absen, Ketua Panitia! Rumah tempat latihan itu ada di kawasan Kampung Durian Medan. Melalui gang sempit, hanya bisa dilalui motor. Sejak satu tahun lalu, Anju bersama dua orang adiknya mengontrak rumah kecil itu. Anju, baru saja wisuda dari Universitas di Kawasan Tanjung Sari Medan, dan sudah mengajar di salah satu SD swasta. Walau tidak seberapa, Anju sudah dapat gaji bulanan. Jarum jam, menunjukkan angka 5. Husor, tiba dengan peluh di dahinya. “Horas!” “Bah, horas lae! Masuk lae! Sahut Poltak dan Jamuda serentak. “Aku pikir, aku yang sudah terlambat, rupanya Ketua masih belakangan” tambah Poltak sambil mengerutkan keningnya. “Itulah tadi lae, aku langsung dari kampus. Angkot-nya susah benar” uja

TUHAN, BERIKAN AKU KAKI YANG KUAT!

Gambar
TUHAN, BERIKAN AKU KAKI YANG KUAT! nurulhedayat.blogspot.com Salah satu keistimewaan rusa atau kijang ialah memiliki tulang kaki yang kuat.  Ketika musuh mengejar, ia bisa berlari dengan sangat kencang. Selain berlari kencang, ia bisa juga berjejak di bukit-bukit yang terjal. Bahkan di bukit batu sekalipun.  Bagaimana bisa? Karena, ternyata rusa memiliki kuku kaki yang jentik. Bukit, berbicara tentang masalah, persoalan, tantangan dan rintangan. Terkadang saking  beratnya persolan hidup, ada banyak orang yang tertunduk lesu, bahkan tidak sedikit yang berusaha mengakhiri jalan hidupnya.  Dilansir CNN Indonesia , (26/09/2020) International Association for Suicide Prevention (IASP) melaporkan "Setiap 40 detik seseorang mengakhiri nyawanya. Hampir 800 ribu orang setahun di seluruh dunia," ucap Murad Khan, Presiden IASP dalam laman IASP. Fantastis! Suatu keputusan jauh dari akal (nalar) yang sehat. Ketika berada di persimpangan jalan (keputusasaan),  ia tidak bisa meli

MARMAHAN HORBO 'MENGAGON KERBAU'

Gambar
MARMAHAN HORBO ‘MENGANGON KERBAU ’ ( Sumber Web Senjata Rohani ) Dulu, selain memiliki hauma na bidang ‘sawah yang luas’, maka memiliki horbo ‘kerbau’ bisa juga menjadi alat ukur status sosial (prestise) suatu keluarga di Kampung. Sawah, bernilai lebih karena dianggap dapat menghasilkan padi, sebagai sumber utama penghidupan. Sedangkan tanah darat, dianggap kurang bernilai. Jika, seorang anak lelaki berumah tangga dan manjae ‘pisah rumah’ dengan ayahnya, akan diberikan “ panjaean ” berupa sawah sebagai modal utama bagi keluarga baru itu. Bahkan tano pauseang   pun, jika anak perempuan menikah, ayahnya akan memberikan setumpuk  tano maraek (sawah) kepada boru-nya tersebut. Beda dengan sekarang, hampir 95 persen sengketa perdata di Silindung, Humbang, Toba dan Samosir adalah masalah tanah darat, karena harganya semakin meningkat, seiring dengan proses pembangunan yang semakin masif. Dulu, hampir tidak ada orang yang memperjual-belikan tano mahiang  (tanah darat). Demikian

SURAT TERTUTUP, BUAT DIRI SENDIRI

Gambar
SURAT TERTUTUP, BUAT DIRI SENDIRI Tifany Saulina Nababan, Sipinsur Kemampuan untuk melihat jauh ke depan, sering disebut sebagai “visi”, kata yang sangat menentukan sukses atau tidaknya seseorang. Frasa itu bukan hanya milik orang dewasa, melainkan  juga anak-anak sekolah. Tidak harus dituangkan dalam kertas, cukup jika seseorang memikirkan, meyakini dan bertindak ke arah mana dia melangkah. Benar, anda ada hari ini karena anugrah Tuhan. Tetapi apakah anda berpikir seperti apakah hidup anda 6 tahun lagi?  Tuhan memberi matahari dan hujan kepada setiap orang. Tuhan juga memberi kesempatan yang sama kepada setiap orang melalui siang dan malam, kecuali anda berada di daerah kutub. Namun setiap orang menggunakan waktu, kesempatan dan berkat itu secara berbeda. Jika anda tidak pernah memikirkan, merencanakan seperti apa hidup anda ke depan, maka anda akan cendrung mengalami stagnasi kehidupan. Seperti “ Monsak humaliang bogas ”, bergerak tetapi tidak ada kemajuan. Sibuk, tetapi h

IBUKU, INONG DI ATAS GARIS, SOSOK KARTINI MASA KINI

Gambar
IBUKU, INONG DI ATAS GARIS, SOSOK KARTINI MASA KINI T. Nababan (Ayah), D. Sidabutar (Ibu), istri dan SH. Siregar, SH Manalu (Mertuaku) Pelantikan WKPN Subang, 8/11/2019 M asyarakat Batak, sangat menjungjung tinggi filosofi anak adalah harta yang paling berharga. Menyadari itu, Komponis Nahum Situmorang menuturkannya dalam liryk lagu “ Anakkon hi do hamoraon di ahu ” (anak adalah kekayaan bagiku). Lagu itu, mengisahkan kerja keras, banting tulang dari pagi hingga sore berjuang untuk penghidupan dan biaya sekolah anaknya. Hampir semua orang Batak tahu lagu berirama lincah dan girang itu. Tidak berlebihan,  lagu itu menjadi lagu wajib dalam pesta pernikahan maupun ulang tahun orang tua.  Benar adanya, kaum pria sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun kebiasaan di kampung saya, justru peran ibu rumah tangga lebih dominan dari suaminya. Betapa tidak? Pagi hari saat suami minum kopi di lapo (kedai), istrinya sudah lebih dulu pergi ke

PASKAH DI TENGAH PANDEMI GLOBAL COVID-19

Paskah di Tengah Pendemi Global Covid-19 Paskah bagi umat Kristiani berbicara tentang kelepasan dan kepastian. Lepas dari belenggu dosa, karena Kristus sendiri telah membayar dosa umat manusia dengan rela tergantung bahkan mati di atas kayu salib. Salib berbicara tentang hukuman. Hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada kita Dia ambil alih. Penjahat berat dan orang yang melakukan makar terhadap kekuasaan Kaisar Romawi, Tiberius, pada waktu itu akan divonis mati, dengan cara digantung di kayu salib. Salib itu ditempatkan di bukit, Bukit Golgata, sehingga khalayak ramai dapat menyaksikannya. Berbeda dengan pelaksanaan eksekusi hukuman mati di berbagai belahan dunia modern ini cenderung tertutup untuk umum. Mengapa harus disaksikan khalayak ramai? Hal itu sebagai peringatan keras kepada publik, untuk tidak melakukan hal yang sama. Paling menyakitkan, karena orang yang digantung di kayu salib, juga tidak langsung dibunuh. Matinya pelan-pelan, bisa satu sampai dua hari menggelepar-gel

Terbanglah Rajawaliku (Refleksi HUT 49)

Gambar
# TERBANGLAH_RAJAWALIKU (Refleksi Hari Ulang Tahunku ~ 49) Ibu saya D. Br. Sidabutar (73) pernah bercerita kisah tragis yang pernah aku alami. Kebiasaan di kampung, bayi lelaki sulung yang telah berumur tiga bulan, untuk pertama kalinya akan dibawa “ maronan ” ke pasar membeli pisang. Pisang itu akan diberikan kepada Ompung -nya (Kakek si bayi), sebagai tanda ucapan syukur. Cucunya sudah bisa memandang dunia luar. Dengan alasan tradisi itu, sekitar awal bulan Juli 1971 ibu menggendong saya dengan ulos “Parompa” (Kain gendongan) ke Pasar Siborongborong. Ibu saya, yang sempat mengecap pendidikan hingga kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) itu jongkok hendak membeli sesuatu. Sebagaimana perempuan lain, biasanya mencari harga yang lebih murah, ibu pun berdiri bergegas ke lapak pedagang  di sebelahnya. “Paling tidak ada perbandingan harga” pikir ibu muda yang berusia 23 tahun kala itu. Nahas, tanpa sengaja jumbai kain " Parompa " yang dililitkan ke badan saya, menyerempet

SAYA BUKAN PEMBANGKANG IMAN

Gambar
BUKAN TAKUT, BUKAN TIDAK BER-IMAN Sejak kasus merebaknya Corona Virus Disease 2019 (disingkat COVID-19), saya berusaha untuk menahan diri, tidak mem-posting berita, mem- forward tautan sosial media maupun mengomentari berita penyebaran korban virus korona ini di laman sosial media yang saya miliki. Saya pikir, “Kasus ini bukan bidang keahlian saya, jangan-jangan link berita yang saya posting maupun share justru dapat menimbulkan kepanikan dan ketakutan kepada pembacanya.” Padahal ketika orang panik dan takut, justru saat itulah tingkat imunitas tubuhnya menurun, memudahkan virus apapun bisa menyerang tubuh seseorang. Karena itu, bijaklah ber-sosial media, saring sebelum sharing ! Jangan latah! Bukan tidak peduli, sebaliknya sangat peduli. Dalam berbagai kesempatan dan interaksi dengan sesama teman di kantor, teman pelayanan, istimewa keluarga, saya selalu menganjurkan pola hidup sehat dengan mengikuti langkah-langkah yang dianjurkan oleh Pemerintah.  Betapa penting upa

Pajojorhon di Perayaan Natal

Gambar
𝗣𝗮𝗷𝗼𝗷𝗼𝗿𝗵𝗼𝗻 𝗱𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 Saya, mungkin anda juga yang berasal dari 𝙃𝙪𝙩𝙖 (kampung) masih ingat perayaan natal ketika masih Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Minggu. Satu bulan sebelum hari-H, guru agama atau sintua membagikan ayat Alkitab untuk dihafal. Satu sampai tiga ayat setiap orang, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sebelum hari perayaan, diadakan latihan, untuk memastikan setiap orang percaya diri dalam penampilan. Selain itu,  agar fasih dalam melafazkan kata demi kata secara benar dan lengkap.  Tak kalah pentingnya posisi berdiri sesuai dengan sistematika ayat yang diucapkan. Alur liturgi itu disusun sistematik, berawal dari panompaon  (penciptaan alam semesta), ha𝘥𝘢𝘥𝘢𝘣𝘶 𝘵𝘶 𝘥𝘰𝘴𝘢 (kejatuhan manusia dalam dosa), b𝘢𝘨𝘢-𝘣𝘢𝘨𝘢 (janji kedatangan Penebus) h𝘢𝘴𝘰𝘴𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 (kelahiran Kristus) diakhiri dengan p𝘰𝘥𝘢  atau pesan kehidupan. Saat latihan terakhir, dipastikan saat kapan seseorang  masuk liturgi, urutan ke bera

TAHUN BARU, MILIKILAH HATI YANG BARU

TAHUN BARU, MILIKILAH HATI YANG BARU "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu."  Amsal 27:19 Hati kita mencerminkan siapa kita sesungguhnya, artinya apa yang ada dalam hati seseorang pasti akan terefleksi dalam ucapan dan tindakannya.  Kalau hati tidak beres maka segala ucapan dan tindakannya pun pasti tidak beres.  Itulah sebabnya penulis Amsal menasihati kita agar senantiasa menjaga hati dengan penuh kewaspadaan agar tetap dalam kondisi baik dan beres.  "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."  (Amsal 4:23). Ada banyak persoalan yang dapat terjadi dalam hati manusia, salah satunya  hati sebagai sumber kejahatan.  "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat."  (Matius 15:19). Selama 17 tahun menjadi Hakim, saya banyak menemukan terjadinya berbagai tindak pidana kejahatan seperti pembunuhan,

Terbanglah Rajawaliku

Rajawali adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sangat indah. Alkitab menuliskan mengenai rajawali sebanyak 38 kali. Seekor rajawali dewasa memiliki tinggi badan sekitar 90 cm, dan bentangan sayap sepanjang 2 meter. Ia membangun sarangnya di puncak-puncak gunung. Sarang itu sangat besar sehingga manusia pun dapat tidur didalamnya. Sarang itu beratnya bisa mencapai 700 kg dan sangat nyaman. Berdasarkan firman Tuhan, kita akan melihat mengenai beberapa hal yang dapat kita pelajari dari burung rajawali ini. #1 Bayi Rajawali terlebih dahulu belajar terbang Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makanan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman.Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima